Wednesday, January 13, 2010

Kesederhanaan di Bangka

Cuaca di Bangka terik siang itu. Panas membakar kulit. Diah Susilarini, perempuan dengan sosok keibuan menyambut kami dengan senyum hangatnya di  rumahnya di Desa Jelutung, Kecamatan Sungai Liat, Pulau Bangka. Rumah sederhana bercat putih itu adalah Sekretariat PKBM Jaya Bersama. PKBM atau Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat adalah sekolah kesetaraan, masyarakat mengenalnya sebagai sekolah kejar paket.

Dari dalam rumah sederhana itu, suara riuh memecah keheningan komplek rumah penambang timah. Wangi harum masakan kue dan candaan-candaan perempuan membawa kehangatan. Sekitar lima orang perempuan berkumpul untuk menghias dua loyang kue bolu, menjadi kue ulang tahun yang cantik. Disertai buku panduan di meja mereka. Ketelitian, kejelian, kesabaran, dan semangat, semua terpancar dari wajah-wajah perempuan di ruang itu.

Mereka adalah murid sekolah kesetaraan paket A, B, dan C Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat Jaya Bersama, ada yang baru dua bulan bergabung, beberapa minggu, atau sudah enam bulan lamanya berlatih, dan saling berbagi ilmu. Beberapa tidak tamat SD, SMP, beberapa sebelumnya bekerja sebagai pembantu rumah tangga. Penghasilan mereka begitu pas-pasan. Tapi kesenangan bisa kembali belajar berhasil mengalahkan kesedihan mereka.

“Ya senang lah ayu, kami bisa berkumpul seperti keluarga di sini, belajar banyak hal. Dari sini kami juga mendapat penghasilan tambahan,” kata Poppy sembari membuat lapisan mentega gula di atas kue tart untuk pesanan sore ini. Jika kebanyakan PKBM di Bangka lebih banyak menggali potensi perkebunan dan perikanan yang kebanyakan dilakoni laki-laki, PKBM Jaya Bersama berbeda dengan yang lain. Kegiatan PKBM Jaya Bersama ini memberi angin segar buat perempuan di sekitar Desa Jelutung, Pulau Bangka. Lewat pelatihan keterampilan memasak dan membuat kue, mereka ingin lebih mandiri dari sekarang.

Minimnya biaya bukanlah halangan. “Kami memang terbatas modal, jadi untuk berlatih, kami membeli bahan patungan, ada yang beli tepung, mentega, telur,“ kata Poppy. Dari modal sekitar  Rp 65.000, satu kue ukuran sedang bisa dijual hingga Rp125.000, “Dari penjualan ini kami dapat untung yang lumayan, lalu dibagi-bagi bersama warga belajar, semakin banyak yang memesan kue, kami semakin besarlah untungnya,” kata Poppy sambil tertawa. Sederhana memang, tapi kesederhanaan ini telah membantu perempuan seperti Poppy mampu menambah penghasilan.

Pelatihan memasak yang diberikan Diah adalah motivasi, sebagai alat pancing, agar perempuan putus sekolah di Bangka tertarik melanjutkan sekolah lagi. Supaya mereka bisa mendapat kehidupan yang lebih layak. Warga belajar kebanyakan bekerja sebagai tong limbang atau penambang timah, pedagang sayur, atau pembantu rumah tangga. Bisa dibayangkan, penghasilan mereka sangat minim, namun ikatan keluarga dan sharing ilmu dari PKBM Jaya Bersama membuat mereka ingin terus maju. “Pelatihan ini adalah motivasi agar warga belajar mau terus datang, misalnya kalau ingin mendapat ilmu membuat kue, mereka harus ikut program paket dulu,” kata Diah.

Dengan memanfaatkan potensi yang ada di perempuan Bangka,  serta kemungkinan permintaan akan kue di pesta ulang tahun, PKBM Jaya Bersama berhasil menggali potensi yang selama ini tidak terlihat. “Alhamdulillah, banyak yang sudah percaya pada kami, tetangga yang ingin mengadakan pesta kawinan atau acara ulang tahun biasanya memesan pada kami,” kata Diah.
Namun, kepercayaan ini adalah perjuangan keras Diah dan PKBM Jaya Bersama selama bertahun-tahun. Masih banyak warga yang memandang sebelah mata kegiatan belajar PKBM, sebabnya, PKBM adalah lembaga pendidikan non formal dan diselenggarakan tidak seperti pendidikan formal lainnya. Saat diadakan tutorial misalnya, warga belajar dibolehkan membawa anak mereka. “Apalagi sebagian besar warga belajar kami adalah perempuan, jadi kalau saat ada pelajaran, di sini ramai sekali,” kata Diah sambil tertawa.

“Namun kami tidak menutup kemungkinan laki-laki menjadi warga belajar kami, selama mereka punya potensi mengapa tidak,” Diah menambahkan.
Setiap minggu, PKBM Jaya Bersama mengadakan kelas dua kali, setiap Jumat dan Sabtu, pukul 14.00 hingga 17.00. Memang, dalam memperlakukan warga belajar PKBM berbeda dengan murid sekolah umumnya.

Efeknya berbeda jauh, “Di PKBM ini, warga belajar sangat serius untuk menimba ilmu, sebab mereka berpikir, kemampuan yang mereka dapat bisa dipakai untuk menambah penghasilan, atau perbaikan hidup,” kata Diah. Walau terbatas dalam teknologi, para warga belajar tak mau kalah dengan chef profesional, lewat buku buku masakan kecil yang dibeli, warga belajar diskusi bersama bagaimana cara membuat hiasan tar lapis bolu surabaya siang itu.

Beberapa hambatan memang datang, namun itu menjadi tantangan tersendiri. Sementara ini, beberapa tutor harus merangkap mengajar beberapa mata pelajaran, seperti matematika dan bahasa Indonesia untuk paket B. Untuk pelatihan menyablon dan tata rias misalnya, Diah mengajak temannya untuk mau mengajar, tapi itu juga tak bisa sering-sering. “Kurangnya narasumber di PKBM kami menyebabkan pelatihan tata rias pengantin dan menyablon tidak rutin,” kata Diah.

Salah seorang tutor, misalnya Mifthahurrahmah sudah dua tahun mengajar di PKBM Jaya Bersama. Ia mengajar di Desa Jelutung. Penghasilan sebagai  tutor memang tidak besar, namun, ikatan warga belajar, tutor, dan pengurus PKBM sebagai satu keluarga terus membuat Mifthah tetap semangat. “Dalam melewati hari-hari bersama PKBM Jaya Bersama, kami memang mengalami duka, namun rasa suka mengalahkan rasa duka yang kami rasakan, kami ini adalah satu keluarga,” kata Diah dan senyum tulus mengembang dari bibir ibu empat anak itu.

Kesederhanaan dan keterbatasan bukan berarti tak bisa berkembang. Warga belajar PKBM Jaya Bersama, para tutor, dan Diah Susilariani, berhasil membuktikan semuanya. Di tengah kesibukan sebagai buruh, penjual sayur, dan ibu rumah tangga, mereka masih bisa menyematkan mimpi untuk mendapat penghidupan yang lebih baik, agar keluarga dan anak-anak bisa lebih beruntung dari mereka.

Sunday, January 10, 2010

Perjalanan ke Karimun Jawa

Pelarian bagaimanapun tetap disebut pelarian

Sebelum sampai di Karimun Jawa, saya mampir ke tiga kota dulu, Jogja - Klaten - Solo. Di Jogja saya bertemu teman, di Klaten ke rumah nenek dan nyekar, lalu ke Solo untuk berangkat bertemu orang yang sama sekali baru buat ke Jepara hingga Karimun.

Pelarian bagaimanapun tetap disebut pelarian. Ada dua hal yang patut disebut, kenyataan dan harapan. Dua kata itu bisa jadi setara dengan kesedihan dan kesenangan. Kenyataan itu namanya Jakarta. Lalu kesenangan namanya delapan hari pelarian.

Di jakarta kita belajar tentang kecurigaan. menaruh curiga atas siapa dan apa saja.
curiga dan waspada memang beda tipis. waspada memaksa kita tetap terjaga, memegang senjata terdekat. Sebab, orang terdekat bisa jadi aktor mutilasi. Atau bisa jadi trend bunuh diri marak lagi, balon-balon siap pecah jatuh dari lantai tinggi mall dan apartemen.

Saya belajar banyak dari perjalanan ini. Menghargai diri, tentang betapa berharga dan beruntungnya rumah, makan, pendidikan, pakaian, kucing, dan tempat tidur saya.

-------------------------------------------------------------
Sebagai oleh-oleh, saya membuat list perjalanan dari Jakarta- Jogja- Klaten- Solo kemarin.


Kereta Bisnis Senja Utama Rp 130.000 (turun di Stasiun Klaten)
dari stasiun itu, kita bisa pilih mau ke Jogja atau Solo atau dalam kota Klaten naik bis Sumber Kencana Jogja-Solo sekitar Rp 6.000 - Rp 10.000.
harga bisa bervariasi, biasanya kondektur suka asal tembak harga. Jadi mending kasih duit pas Rp 6.000


Selama beberapa hari, saya menetap di Klaten, kampung halaman saya, jadi lebih mudah pergi ke tempat wisata sekeliling Jogja - Solo naik bus Sumber Kencana jurusan Jogja-Solo.


Untuk keliling kota Jogja, saya sarankan naik Trans Jogja. Ini semacam Busway Transjakarta, tapi dengan cakupan -menurut saya- sangat luas keliling Jogja. Harga tiket Rp 3.000. Mereka biasanya menyediakan peta rute bus fotokopian untuk turis, atau bisa juga di download online. Kita bisa ke Malioboro, Pasar Beringharjo, Prambanan, Taman Sari -Tempat pemandian istri raja dekat Kraton Jogja, UGM, Museum Affandi, Benteng Vredenburg, dan museum sekitar Kota Jogja naik Trans.


Kalau sampai Jogja atau Solo masih pagi, sempatkan makan di pasar tradisional setempat, Biasanya pasar  kecil, dan hanya buka pagi. Kita bisa makan Soto Ayam Kampung sekitar Rp 2.500.. yuuuummmmyyy!!


Oh iya, jangan lupa bawa sleeping bag! Jaga-jaga kalau tidak dapat tempat duduk, atau ingin tidur di masjid atau surau.

Friday, January 01, 2010

Delapan Hari Perjalanan

Dalam setiap perjalanan, selalu ada cerita baru.
Tentang bagaimana langkah mempertemukan kami.
Tentang pencarian cinta, jati diri, dan petualangan.

Saya menemukan indahnya dunia. Juga tangis dan tawa.
Tentang pencarian pasangan hidup.
Pertengkaran pasangan muda.
Ikatan pernikahan.
Perceraian.
Pacar.
Pasangan gay.
dan laki-laki berumur 13 tahun yang belajar berpetualang.