Tuesday, November 10, 2009

Timah di Bangka

Beberapa hari yang lalu, saya sempat pergi ke Pulau Bangka. Ini perjalanan pertama saya ke sana. Bangka bagi saya, adalah kota yang rapi, segala fasilitas hampir lengkap, dan indah. Berbeda dengan kampung saya di pedalaman Jawa yang susah angkot, Bangka cepat sekali berkembang sejak otonomi dari Sumatera Selatan sejak 2002.

Kebanyakan penduduk Bangka bekerja sebagai penambang. Banyak remaja putus sekolah akibat tergiur bekerja sebagai penambang timah, atau malimbang. Satu bukit, dikabarkan sudah habis karena ditambang. Dari pesawat, saya melihat botak-botak tanah coklat sisa pertambangan. Tanah itu tak lagi subur, juga tak ada yang mencoba memperbaiki. Di tanah itu juga, banyak pemuda tewas karena sistem pertambangan yang tak memperhatikan keselamatan. Entah liar entah tidak, sistem tambang ini tak layak lagi (seharusnya).

Saya ingat dengan film Pirates of Caribbean (2003), The Curse of Black Pearl. Tentang Kapten Barbossa dan awak kapal Black Pearl yang dikutuk akibat memakai uang emas yang mestinya haram dipakai. Perempuan, anggur, kemewahan, serta kapal yang mereka miliki tak lagi terasa sebagai kenikmatan. Semua adalah kutukan. Hidup abadi selamanya dalam kapal ternyata adalah kutukan. Sebab mereka tak bisa minum, apel yang dimakan hanya jadi pasir, yang mereka sentuh juga jadi pasir.

Mengapa timah begini banyak menjadi kutukan?

Saat harga timah sedang tinggi, seorang bisa dapat hingga 5 juta sehari melimbang, tapi kalau tidak, hasilnya tetap tinggi juga sekitar seratus ribu sehari. Duit ini sering dihamburkan untuk mabuk-mabukan atau membeli handphone terbaru. Banyak remaja putus sekolah bukan akibat tak ada uang, tapi karena tergiur bekerja dan hasil uang yang mudah. Bagi masyarakat, sekolah tak lagi penting, karena sudah mudah mendapat uang.

Sistem sekolah untuk pasar membuat kita berpikir: uang untuk sekolah, sekolah untuk uang, kalau ada uang tak perlu lagi sekolah. Karena sistem pendidikan memang diciptakan untuk tuntutan kapitalisme pasar. :(

Hmm.. sedih. Sedih mengingat jam-jam yang harus mereka habiskan di bawah ancaman celaka. Sedih, akibat uang yang mengungkung pemikiran! Sedih dan geram, sekitar 1500 orang putus sekolah tiap tahunnya gara-gara timah.

Begini besarnya sumber daya, tapi tetap saja, air bersih sulit didapat. Listrik mati tiap dua hari sekali. Tanah-tanah subur sebentar lagi berganti sampah tambang.

Monday, November 09, 2009

No Mystery

We tell to the world, what we think while publish our blog, what we feel and wishes in every twitter update, with whom we're in plurk updates, and what we hate in facebook's status. There's no mystery anymore. But we still amaze when people know everything about us. Internet gave us no boundary!!

Tuesday, November 03, 2009

In God, I Trust

For every pain He made. For every smallest happiness He always create. and for His fair in His unfair decision. I know, God always kind to us. In God I always trust.

Monday, November 02, 2009

I mean it

I can be so mean when I wanna be. I am capable of really anything. I can cut you into pieces, when my heart is broken. ~Pink

Thursday, October 22, 2009

Dua Gereja, Satu Masjid, dan Satu Mushola

Kemarin saya pergi ke seputaran Jalan Merdeka, Jakarta Pusat. Seperti thawaf, tapi kali ini mutarin Monas. Bersama seorang teman, yang saya pikir, punya pengalaman spiritual yang mirip seperti saya. Tidak, saya tidak bilang soal iman, hanya pengalaman saja. Kita sama-sama selalu berpikir terbaik menuju Sang Segalanya.

Kita berdua duduk di pinggiran mushola saat Dzuhur, lalu masuk dan berteduh ke Gereja Immanuel di seberang Gambir, beranjak ke Mesjid Istiqlal, istirahat dan berdoa disana, terakhir mampir ke Gereja Katedral di seberang Mesjid Istiqlal, istirahat dan merenung di sana.

Saya benar-benar merasakan satu hal yang sama di empat tempat tersebut, keteduhan, ruang, dan waktu untuk berpikir jauh dari hiruk pikuk kota, dan energi positif. Rasa berserah pada Sang Pencipta. Kesunyian. Senyum. Kasih sayang.

Begitu mudahnya energi kebaikan dan rasa positif itu menyebar.

Entahlah, begitu damai bersama manusia-manusia yang baik, atau mencoba menjadi baik. Karena kita begitu menghargai tempat ibadah, maka sangat saru untuk membiarkan sampah bertebaran.

Karena kita begitu menghargai sesama di sana. Kita bisa menjaga mulut, mata, perilaku, dan terutama hati karena berada di tempat yang dianggap suci, bukan keramat. Maka kita tanami halaman-halaman kosong dengan bunga dan tanaman hijau. Membiarkan burung-burung tenang masuk ke dalam bangunan.

Membaca Rosario, anak anak kecil mengaji, lantunan ayat.

Bisikan doa dan harapan.
Kebaikan.

Sungguh, saya hampir menangis bahagia, karena masih ada tempat begini tenang untuk merenung, dan berbagi kebaikan.

You're so wonderful The Almighty.

Tuesday, October 20, 2009

The Power of a Good (wo)Man

Sikap paling mudah yang bisa saya lakukan sekarang hanya menjadi baik. Mencoba baik, tertawa, tersenyum. Karena sikap seperti ini sangat amat irit energi. Tak skeptis, atau malah cenderung malas berpikir kritis yah. Tak mau berpikir macam-macam, sebab musti menyisihkan energi.

Sikap baik, ramah, juga sangat berpengaruh buat orang di sekitar. Seharian ini saya naik angkot yang sopirnya sangat ramah. Senyum, dan sangat perhatian. Selalu bilang terima kasih. Saya juga jadi senang.

Si Manis Guling Guling

Mungkin malam diluar terlalu dingin
Jadi si Manis selalu mau masuk ke dalam.
Memang di luar terlalu sepi
si Manis pingin main malam ini

dia suka guling-guling
pingin dikelitikin perutnya.

Sunday, October 18, 2009

Berkenalan dengan Harimau Putih

Sebuah kehormatan buat saya, pernah melewati sore ini, berkenalan dengan pengurus Harimau Putih di kebun binatang Ragunan, Jakarta. Bermain bersama empat anak harimau putih berumur sembilan bulan. Ima yang mengajak saya. Kebetulan ia kenal dengan penjaga kebun binatang di Ragunan.

Salah satunya bernama mirip dengan saya, Indah. Kalau sudah berumur satu setengah tahun, mereka akan dipisah dari induknya yang berumur 12 tahun. huu, sedih rasanya kalau lihat mereka senang sekali bermain sama si induk tadi sore. Dan rasanya lebih senang, kalau mereka bisa hidup di alam bebas. Bukan di kamar yang lembab dan usang itu.

*dua dari empat anak harimau putih, ayahnya harimau putih juga. Kalau tak salah ingat nama anaknya, Indah, Sinar, Wati, Surya. Induknya yang putih bernama Sri, sudah 12 tahun. Sri tidak bisa makan sendiri, musti disuapin sama pawangnya.

Terima kasih Ima untuk pengalamannya hari ini. :)

Kartu Gaple dan Pinggir Pantai

Kita duduk di atas balkon rumah kayu
lihat laut warnanya masih bersih
yang asinnya masih wajar

walau tak berani berenang di pantai macam bule-bule
kita tetap merasa nikmat, ada di pinggiran kecipakan ombak

kita selalu berharap
waktu bisa diputar berulang
di waktu yang indah saja

tapi kalau benar-benar diputar
kita tak tahu musti apa.

"GAPLEK!!" Pak RT meja kartu domino teriak
kartu kosong sudah keluar di awal
kartu lima sudah habis
mau tak mau kita mesti ikut permainan

kalau akhirnya menang, ya syukur
kalau kalah, ya tinggal kocok kartunya lagi

Monday, October 05, 2009

120 km/hr for the first tima

Saya (sumpah) sebal banget sama motor yang asal nyalip dari kiri kalau naik mobil. Dan amit-amit keselnya kalau lihat motor ngeduluin dari sebelah kanan.

Nah, beberapa hari ini, saya jadi anggota geng motor. Ya, baru jadi penumpang sih. Hal terbaik dari mengendarai motor adalah session trek-trekan. Trek-trekan berasal dari kata track, yang artinya jalur, nah supaya gampang disebut jadi nge-trek atau trek-trekan.

Beda sama arti asalnya, trek-trekan itu nama lain dari ngebut-ngebutan di jalan umum, biasanya malam hari. Kita bisa ngebut sesama anggota geng motor, atau anak geng yang lain yang taunya ketemu di jalan.

Ini pertama kalinya saya (ikutan ngerasain) ngetrek.

dan.. whoosh.. the speed until 120 km/hour!

adrenalin, ketakutan antara celaka dan selamat, perut dikocok waktu goncangan, rem yang terlalu pakem, dinginnya muka waktu kena hujan serasa ditampar, kesenangan, gelap, ga tau apa yang ada di depan, dan teriakan "WUHUUU!!!" kalau sudah di paling depan. Semuanya adalah saat terbaik dari status bernama : anak geng motor.

Saya ketagihan!

Friday, September 25, 2009

Sore yang Sederhana

Kapan ya, terakhir kali saya pernah benar benar merasakan sore seperti saat ini?
Hmm, dua bulan, -bukan bukan-, empat bulan yang lalu? Hmm, tapi terakhir saya ingat adalah setahun lalu, kira kira sebelum skripsi saya benar-benar dimulai.

Masa skripsi sudah lewat. Wisuda juga sudah. Sekarang saya berstatus pengangguran terselubung.

Sore ini adalah titik tengah posisi jadi buronan dua orang -eh, sepertinya jadi empat orang-, hihihi. Sore yang sepi seperti inilah, saya bisa memikirkan kembali, apa yang sedang saya lakukan, untuk apa, bagaimana semestinya berjalan, dan apa yang mesti saya lakukan nantinya. Bisa membaca beberapa artikel pelan pelan. Minum teh hangat. Merasakan dengan lega dan tidak terburu-buru, apa yang sedang saya lakukan sekarang.

Saya benar-benar tenang. Mendengar lagu-lagu bertempo lambat. Bisa merasakan basahnya angin sore. -hmm, Sekarang mustinya sudah masuk musim hujan, tapi ternyata belum.- Sangat nyaman mendengar denting klintingan bel angin sambil bernafas teratur. Sedikit-dikit bau asap sisa bakaran sampah tetangga.

Melihat warna kamar yang mulai menggelap, dan cahaya kuning matahari mulai memerah, kuning tua, lalu gelap.

Ini adalah sore yang sederhana. Sore yang biasa.
Tapi kawan, sore yang biasa seperti ini, justru yang saya selalu rindukan.

-Jam 5 sore, di kamar-

Sunday, September 20, 2009

I am not What Attached to Me


Belakangan ini, saya sering bertanya pada diri sendiri, "Siapa saya? Apa yang sedang saya kerjakan? untuk apa? Bagaimana saya akan menjadi saya nantinya?" pertanyaan ini terus dan terus berulang. Semakin berulang bertanya, semakin saya tidak mengerti siapa saya, apa dan untuk apa yang sedang saya lakukan.

Ini adalah situasi kehilangan diri dan tersesat.
Sesat karena jalan yang biasa saya tempuh tiba-tiba buntu. Dan salah identifikasi. Lalu, akhirnya saya menyadari, identifikasi terbaik buat tiap manusia adalah sama, sebagai sebuah jiwa, nafs, bukan fisik.

Kita terbiasa mengidentifikasi seseorang mirip meng-attach file pada email. Maka ketika kita sampai pada situasi terpaksa melepas semua gelar yang ada, itu sangat menyakitkan. Kita mulai bertanya, siapa diri kita.

Saya ada dalam situasi, saya tidak mengidentifikasi siapa saya, tapi lingkungan, teman, keluarga membantu identifikasi diri secara fisik, sifat yang melekat. Beberapa tidak membuat saya nyaman. Namun, bagaimana mungkin dilepas, kalau itu adalah bagian yang melekat?

Cara terbaik adalah dengan memutar pandangan. Semua yang ada adalah "gift". Hadiah dan pemberian. Maka tak akan jadi masalah, kalau pemberian itu kita simpan dalam lemari, atau diberi pada orang lain. Tak jadi masalah, kalau tiba-tiba gift itu tak lagi jadi milik kita. Karena semua hanya hadiah, tak lebih, tak jadi milik kita.

Saya adalah Bob, perempuan dengan fisik yang sempurna.
Lalu apa saya akan berubah jadi John, kalau salah satu bagian dari tubuh menjadi cacat atau tak lagi jadi perempuan? (*anyway memangnya apa definisi perempuan?)
Saya adalah Bob, berusia hampir 23 tahun, suka menggambar, menulis, dan diskusi.
Lalu apa sayang akan menjadi George, kalau saya tiba-tiba lebih suka makan bakso, dan tak bisa lagi menulis dan menggambar?


We ask ourselves, 
Who am I to be brilliant, gorgeous, talented, fabulous? 
Actually, who are you not to be? 
You are a child of God. 
Your playing small does not serve the world. 
.....
And as we let our own light shine, we unconsciously give other people permission to do the same. 
As we are liberated from our own fear, our presence automatically liberates others.
-Our Deepest Fear, Marianne Williamson-

Ketika kita bertanya, siapa saya? Who am I?
maka jawaban yang terbaik adalah, saya adalah saya, saya adalah jiwa yang ada dalam diri.

Memutar pemikiran, saya adalah jiwa yang ada dalam diri, berarti perlahan menghapus sisi materialisme dan eksistensialisme saya.

Menghapus pemikiran, saya mengerjakan, apa yang saya pikir orang pikirkan tentang saya.
I do, what I think, that people think about me.

Dan manfaat terbaik adalah menggerus sisi materialisme. Menghapus cara berpikir, mengukur hal yang ada berdasarkan jumlah dan bentukan, juga membebaskan pemikiran, membebaskan diri orang lain dari pemikiran bentukan secara fisik. Membebaskan mereka yang selama ini terkungkung dalam identitas diri, baik akibat pemikirannya sendiri, ataupun orang lain.

Saya adalah saya.
Saya adalah jiwa yang bergumul dalam diri.
Saya adalah saya. I am what I am.
Ketika saya berlaku baik, itu adalah saya. Ketika saya berlaku -dianggap- kriminal,  itu juga saya.
Manusia tak lagi bisa menghitung apa yang dilihat, terpikir, dan hilang.

Kesadaran pada tahap ini, juga menyalahi pemikiran, I think therefore I am-nya Rene Descartes. Saya berpikir maka saya ada. Lalu apa itu berpikir? Kalau saya bekerja bukan berdasar apa yang saya pikirkan, apakah itu bukan saya? Jalan terbaik tak lagi membatasi definisi, siapa saya dari apa yang saya lakukan, atau pada bagaimana orang lain menyebut saya. Membebaskan pemikiran sendiri, berarti membebaskan orang lain.


Wednesday, September 16, 2009

Semuanya Satu Hari

Dalam satu hari, saya mengalami semuanya, dalam satu hari saja.


Tidur sejam sehari.
Penumpang Mayasari Bakti PPD berusaha menghijacked bus Grogol Kampung Rambutan karena cuma sampai UKI.

Kernet supir ngatain "Bangke" ke penumpang, bus penuh penumpang balik maki-maki si kernet.
Merasa dipermalukan sebagai penguasa jalanan Jakarta karena disasarin kemana-mana.
Ibu dan anak penderita autis terpaksa pindah bus di tengah jalan besar.
Interview orang Indonesia dalam bahasa Inggris.
Melihat anak bule rambut pirang dipangku baby sitter sambil ngaso dan ngobrol bareng sopir dan tukang sapu di Kemang Dalam.
Melihat bule bule berlatih salsa dan pesta teqquilla untuk malam amal.
Diskusi soal korupsi Indonesia, perbandinan Taiko Eiji Yoshikawa dan Mingke Pramoedya Ananta Toer bareng bule Jepang.
Bikin account di bank untuk nabung.
Turun dan gak bayar angkot gara-gara di angkot di kedipin sama bapak, merasa di-embarrassed secara seksual. Berawal dari pertanyaan, "Mau Kemana, neng?" terus gw jawab, "Mau gw kemana kek, emang apa urusan lo?"
Debat sama Mba Petugas Spidi bernama Artha, karena merasa dia yang nyolot, naikin tagihan jadi lebih dari 95000 IDR. Dan balik nanya, "Jadi saya gak salah kan?"
Menemui kartu ATM-nya ibu guru dipakai sama anak pertamanya tanpa ketahuan.
(terbiasa melihat) Buka puasa diawali dengan sebotol Anker Scout.
Menemui teman yang berusaha membangun Panti Asuhan dan sedang kekurangan dana.

    Thursday, September 03, 2009

    Our Deepest Fear

    by Marianne Williamson


    Our deepest fear is not that we are inadequate. Our deepest fear is that we are powerful beyond measure. It is our light, not our darkness that most frightens us. 
    We ask ourselves, Who am I to be brilliant, gorgeous, talented, fabulous? Actually, who are you not to be? You are a child of God. Your playing small does not serve the world. There is nothing enlightened about shrinking so that other people won't feel insecure around you. We are all meant to shine, as children do. We were born to make manifest the glory of God that is within us. It's not just in some of us; it's in everyone. And as we let our own light shine, we unconsciously give other people permission to do the same. As we are liberated from our own fear, our presence automatically liberates others.



    Puasa dan Urusan Tuhan

    Saya mulai memahami soal hadist riwayat yang menyebutkan, puasa adalah ibadah langsung pada Tuhan. Saya memahami ini sebagai, ibadah yang jadi urusan langsung antara manusia langsung dengan Tuhannya. Berbeda dengan shalat yang bisa dilakukan berjamaah, di tempat publik. Puasa adalah soal menahan semuanya, dan tak ada yang tahu siapa yang bisa tahan.

    Kalau urusan makan dan minum, mungkin bisa diakali. Tapi puasa lebih dari tidak makan dan tidak minum, ia menahan rasa amarah ketika sedang haus, pikiran yang tetap jalan saat kadar gula berkurang, tidak berbohong, mengendalikan hormon nafsu, dan niat untuk menyelesaikan puasa itu sendiri sampai magrib.

    Dari itu semua, tak ada yang bisa tahu, kecuali diri sendiri dan sesuatu yang dianggap Tuhan. Beberapa percaya, Tuhan ada dalam bagian dari dirinya, maka berpuasa adalah urusan antara diri dan dirinya. Sementara yang lain menempatkan Tuhan dengan ber-ihsan, yakni menyadari bahwa Tuhan tak bisa dilihat, tapi selalu mengawasi apa yang ada di hati, pikiran,  atau yang ia lakukan dimana saja. Untuk itu, maka berpuasa bagi yang berihsan adalah merasa selalu diilihat, urusan antara dirinya dengan sesuatu yang tak terlihat.

    Tuesday, September 01, 2009

    Identity Ambiguity

    tomorrow is gonna be the day, day just same as before today.. tonight, in the rainny night, I am wondering and rethinking, who am I ? what did I do? what I supposed to do?

    dramaturgy, social convention, and all of the same-ness I did, seems wrong today. tonight.
    I did, what my family, my friends, and everyone want me to do.
    I did, just to feel unguilty.
    I and me did, to whatever people will speak good about me,
    so they will not find my mistakes,
    so the cowards won't say bad about me.

    My Almighty...

    I am lost in my identity.
    in my ambiguity of identity.

    to much lies I made.
    after a lie, there are another lies to cover the lie before.

    who am I?
    what the heck am I doing here?
    what make the who I am?

    Friday, June 12, 2009

    According to moonson

    According to moonson,
    mars and venus supposed to be together on earth for dating,
    tomorrow.


    But earth is too crowded.
    So, they had break off for no reason.


    (Bersama kopi, lagu michael jackson, dan tumpuk tumpukan kertas)

    /AND THINGS FALL APART/
    /YOU'LL REMEMBER ONE DAY IN YOUR LIFE//

    Tuesday, June 02, 2009

    Tubuh Perempuan, Agama, dan Peraturan Daerah

    Menyoalkan pembagian peran gender dalam agama, selama ini menjadi tabu untuk dibicarakan, karena ini sering diinterpretasikan sebagai mempertanyakan keputusan Tuhan dalam kitab-Nya, terutama bagi perempuan itu sendiri. Siapa saja bisa diinterpretasikan sebagai penentang kehendak Tuhan dan melawan kodrat ketika mempertanyakan kembali, untuk dan oleh siapa ketetapan agama dibuat?

    Banyak orang berpikir, seperti yang ditulis Nawal el Sadaawi dalam bukunya The Hidden Face of Eve, agama adalah agen tunggal dalam pembakuan subordinasi perempuan, dan ini selalu terkait dengan sex sebagai perempuan. Perempuan, adalah jelmaan iblis dan dosa yang bertanggung jawab menurunkan Adam dari surga, dan penyebar penyakit seperti Dewi Venus dalam kisah Romawi.

    Data dari Bappeda dan BPS provinsi Jawa Barat tahun 2003 menunjukkan, jumlah anak perempuan yang berusia lima tahun sebanyak 62,51% tidak melanjutkan pendidikan. Sebagian besar dari mereka hanya tamat SD. Rendahnya faktor pendidikan ini, membuat perempuan sulit mencari lapangan pekerjaan, sehingga alternatif yang mudah bagi mereka untuk bekerja adalah menjadi buruh migran, pembantu rumah tangga, atau bahkan masuk ke dunia pelacuran. Sementara itu, data dari Dinas Sosial Provinsi Jawa Barat menunjukkan, di provinsi Jawa barat pada tahun 2003 terdapat 6.276 perempuan yang beroperasi di dunia prostitusi, dan 30% dari mereka berusia di bawah 18 tahun. Angka sebenarnya jumlah mereka bisa lebih tinggi lagi.

    Melihat angka yang tinggi ini, Pemerintah Daerah Tangerang mengeluarkan Peraturan Daerah Pelarangan Pelacuran Nomor 8 pada tahun 2005. Beberapa peraturan yang multitafsir adalah,

    Pasal 3
    Setiap orang dilarang membujuk atau memaksa orang lain baik dengan cara perkataan, isyarat, tanda atau cara lain sehingga tertarik untuk melakukan pelacuran
    Pasal 4 (1) Setiap orang yang sikap atau perilakunya mencurigakan, sehingga menimbulkan suatu anggapan bahwa ia/mereka pelacur dilarang berada di jalan – jalan umum, dilapangan –lapangan, dirumah penginapan, losmen, hotel, asrama, rumah penduduk/kontrakan, warung – warung kopi, tempat hiburan, gedung tempat tontonan, di sudut – sudut jalan atau di lorong – lorong atau tempat – tempat lain di daerah.

    Berkat peraturan tersebut, aparat sering salah tangkap, karena menurut pasal 4, aparat boleh mencurigasi siapa saja yang perilakunya dianggap sebagai pelacur. Kasus salah tangkap sudah bukan hal asing lagi, seperti istri guru yang keluar malam dan ditahan selama beberapa hari karena suaminya tidak mampu membayar denda Rp300.000. Ia kemudian ditahan dengan status pelacur. Peraturan yang tidak sensitif gender seperti pengendalian tubuh perempuan untuk mengurangi tindakan kiriminal, serta dianggap sebagai aplikasi penerapan hukum Islam menjadi cerminan bagi publik asumsi riil agama dan Islam. Dari sini, juga lahir anggapan, perempuan memang disubordinasi dalam agama.
    Melihat hal di atas, bagaimana sebenarnya, agama sebagai institusi berperan dalam ketimpangan gender antara perempuan dan laki-laki?

    Agama Patriarkis
    Perda nomor 8 dianggap sebagai cerminan moral agama Islam yang dituangkan dalam Peraturan Pelarangan Pelacuran. Pencegahan pelacuran dalam Pasal 3 dan 4 adalah menahan pelacur itu sendiri, dan pihak berwenang bisa mencurigai siapa saja yang dianggap mencurigakan dan bisa didefisikan sebagai pelacur. Dalam Konvensi Penghapusan Perdagangan Manusia dan Eksploitasi Pelacur (Convention for the suppression of the traffic in persons and of the exploitation of the prostitution of others) menyebutkan, pelacur adalah korban dan karena itu hukuman harus dijatuhkan terhadap yang menjerumuskan mereka, bukan menahan mereka karena didefinisikan pelacur. Negara harus menjerumuskan orang-orang yang memasukkan perempuan ke dalam pelacuran, bukan menghukum pelacurnya. Negara juga harus menghukum mereka yang secara finansial terlibat menyewakan atau menyewa tempat untuk memelacurkan orang lain.
    Ketidakadilan gender antara perempuan dan laki-laki terjadi bukan merupakan bagian dari doktrin agama, melainkan sebagai ideologisasi produk sejarah yang diciptakan oleh budaya patriarki yang bias gender dan lebih banyak merugikan posisi perempuan. Ayat yang multitafsir, sering ditafsirkan ulama tanpa melihat kembali asbabun nuzul atau sebab dari turunnya ayat, seringkali cerita atau pemakaian bahasa Arab yang memang sudah bias gender langsung diartikan begitu saja ke dalam bahasa Indonesia. Salah satu yang berpengaruh dalam reduksi makna dan bias pemaknaan peran gender dalam Islam, dalam disertasi Nasarudin, antara lain disebabkan tidak netralnya pembaca dalam menilai ayat teks kitab dan terlalu dipengaruhi perspektif lain dalam membaca Ayat, seolah al Quran memihak laki-laki dan mendukung sistem patriarki.

    Dalam masyarakat patriarkis, peraturan daerah pelarangan pelacuran malah mensubrodinasi perempuan dan mengatur tubuh perempuan, seolah perempuanlah penyebab deviasi masyarakat, ini sejalan dengan pendapat Ratna Batara Munti, institusi keluarga, politik, agama dapat menjadi peneguh posisi subsorbdiansi perempuan. Institusi agama yang mayoritas dikuasai laki-laki menjalankan peran sebagai pihak yang menyosialisasikan pembakuan peran perempuan melalui tafsiran kitab suci yang patriarkis. Melalui hukum, negara membakukan peran gender terhadap perempuan, khususnya dengan menggunakan nilai gender yang hidup dalam masyarakat. Sistem hukum ini diformuilasikan untuk melayani laki-laki dan untuk memperkuat hubungan sosial yang patriarkis.

    Lingkungan patriarkis menafsirkan ayat dan menghasilkan ketetapan patriarkis. Dalam kitab Talmud misalnya, hukuman Tuhan pada Hawa akibat menjerumuskan Adam dari Surga adalah 10 ketetapan tak terbantahkan, ketetapan ini juga mencampuradukan antara jenis kelamin dengan peran feminin, seperti simbol vagina dan menstruasi dengan kewajiban mengurus anak dan hidup dibawah laki-laki. Sebaliknya, hukuman pada laki-laki dapat dinegosisasikan Adam pada Tuhan, yaitu ketetapan Laki-laki makan rumput bersama ternaknya. Hukuman Tuhan pada laki-laki, seperti sulit mendapat pekerjaan sudah pasti juga berpengaruh pada perempuan, sebaliknya hukuman pada perempuan tak akan berpengaruh pada laki-laki.

    Bagi Elaine Showalther, peran perempuan dan laki-laki adalah hasil produk budaya dan diciptakan dalam masyarakat itu sendiri. Nilai moral budaya masyarakat turut berperan dalam menentukan siapa yang bersalah dalam pelacuran. Masyarakat Indonesia yang didominasi oleh masyarakat muslim adalah masyarakat yang didominasi oleh laki-laki (male dominated society), kondisi patriarkis yang sama juga terjadi pada agama semit lainnya, yaitu Yahudi dan Nasrani.
    Penempatan perempuan sebagai kelas kedua menjadikan masyarakat tersubordinasi, bahkan oleh budayanya sendiri. Bagi Susan Scred, agama bukan faktor dominan dalam proses transformasi sebuah masyarakat ke sistem patriarkis, karena ekologi dan keadaan sosial budaya juga mempunyai peranan cukup besar.

    Gender lebih dari sekadar pembedaan laki-laki dan perempuan dilihat dari konstruksi sosial dan budaya ia adalah ekspektasi atau harapan-harapan budaya terhadap laki-laki dan perempuan (cultural expectations for women and men) (Hillary M. Lips, 1990;4). Relasi gender dalam dunia Arab yang patriarkis, tempat berkembangnya agama Islam, Nasrani, dan Yahudi memberi peran dominan pada laki-laki dalam berbagai bidang, termasuk dalam bidang politik. Ia berhak menjadi wali yang menentukan jodoh anak-anaknya, punya hak poligami, berhak menjadi imam sholat, dan pewaris utama harta warisan. Sayang, situasi kultural ini sering disalahartikan sebagai ketetapan agama juga dan malah diaplikasikan pada penerapan peraturan daerah dan ketetapan syariah Islam. Cara ini menempatkan perempuan sebagai warga negara kelas dua, jenis kelamin kedua, “the second sex”, sementara laki-laki dianggap mempunyai otoritas kesucian, sistem ini juga dikenal dengan konsep pengagungan politik (political ecclesiastiacalism).

    Kasus salah tangkap perempuan yang dianggap pelacur misalnya, tidak menempatkan perempuan sebagai korban, melainkan penyebab dari pelacuran itu sendiri. Sementara pemerintah menetapkan peraturan yang bias gender. Thanh-Dam Truong, menyebutkan, mendekati isu pelacuran dari pendekatan feminsi melihat pelacuran sebagai hasil politik dominasi laki-laki terhadap seksualitas perempuan. Truong melihat, tujuan laki-laki mengendalikan seksualitas perempuan adalah melanggengkan kekuasaan laki-laki. Dengan pelacuran, kemampuan gairah seksual perempuan ditonjolkan, namun pada saat bersamaan distigmatisasi sebagai penyimpangan seksual.

    Hubungan reproduksi patriarki dipandang sebagai disatu pihak berfungsi menstrukturkan posisi perempuan dalam keluarga, sebagai ibu, istri, pekerja seks, dan pekerja domestik yang tak dikenal. Dan di lain pihak berfungsi sebagai peneguhan posisi rendah perempuan dalam pasar kerja upahan yang distereotipekan. Kamla Bashin mendeskripsikan patriarki sebagai dominasi laki-laki, relasi kuasa dimana laki-laki mendominasi perempuan dalam sebuah sistem dimana perempuan disubordinasi dalam banyak cara. Sagala dan Rozana mengutip definisi Adrienne Rich, yang menyatakan patriarki adalah kekuatan laki-laki dalam sosial keluarga, ideologis, sistem politik dimana laki-laki oleh kekuatananya, tekanan langsung, atau melalui ritual, tradisi, hukum dan bahasa, kebudayaan, etika, pendidikan, dan pembagian kerja, membedakan apa yang boleh atau tidak boleh dilakukan perempuan, dan dalam cara itu, perempuan dimana saja berada di bawah posisi laki-laki.

    Peraturan daerah No 8 adalah ketetapan patriarkis yang semakin meneguhkan relasi reproduksi patriarki perempuan, dalam agama dan dalam masyarakat, bahwa mereka yang dianggap pelacur adalah perempuan; perempuan dapat dengan mudah dituduh sebagai pelacur karena jalan malam atau bermesraan. Pemikiran patriarkis dalam pemikiran aparat menjadi ketetapan yang dibenarkan dalam peraturan pelarangan pelacuran melalui simbol agama. Sementara itu, peran feminin atau maskulin, bukanlah sesuatu yang taken for granted. Dengan pemahaman bahwa peran perempuan dan laki-laki adalah bentukan budaya masyarakat bukan ketetapan Tuhan dalam agama dan kitab, seharusnya ini bisa menjadi langkah awal untuk membongkar kembali, ketidaksetaraan peran antara perempuan dan laki-laki dalam masyarakat.

    Friday, May 29, 2009

    Kyuminis dan Neyolip

    Waktu duduk di sekolah dasar negeri, tiap anak dimintai duit 500 rupiah buat duduk bersama nonton film G30S/PKI. Duduk, supaya bisa tulis nama di daftar absen. Padahal tiap tahun, film itu ditayang ulang di televisi.

    Saya juga nonton, duduk bertiga di dua bangku, berjejalan bersama anak kelas 3,4,5, dan 6, anak pagi dan petang. Kami pakai baju olah raga dan rok warna merah, kadang juga ada yang pakai batik.

    Aula ditutup karton serba hitam, layarnya kain blacu berdebu. Gambarnya goyang malah mulut tak sesuai dengan suara, nge-bass, blur, lebih sering tertutup bayangan kepala, atau tiruan bayangan burung. Kadang asap rokok Abang Proyektor bisa kelihatan jelas.

    Jaman itu, paling tidak enak dipanggil Pe-Ka-I, kominis, keminis, atau kyuminis. Dalam film, yang namnya Pe-Ka-I atau kyuminis itu nari-nari sambil nyilet-nyilet wajah orang. Mereka suka main pelor dan tembak anak kecil seenaknya.

    ***

    Tiap pagi saya selalu update status facebook, lihat apa ada yang komen di status. Apa ada yang request friend, kirim message, atau invite event. Lalu lihat feed, buka milis, situs online, atau discussion board buat tahu berita dan debat paling baru, isinya:

    "si itu neyolip,"
    "si anu ekonomi kerakyatan,"
    "antek amerika,"
    "intelijen,"
    "wong cilik,"
    "anu tak bisa bedakan neolip dan neozep,"

    Beda dengan jaman SD, saat ini mungkin paling tidak enak dikatain antek amerika, intelijen, neolib, neyolip, atau neyosep. Mereka katanya suka jual apa saja buat dibisnisin dan ambil untung besar. Suka hutang dan suka privatisasi. Padahal, jiwa judi, kriminil, hutang, dan suka ambil untung besar sudah ada sebelum istilah neyolip nyelip di milis.

    ***
    Heboh sekali diskusi itu, walau sampai sekarang, saya tidak tahu pasti, siapa yang kyuminis, atau siapa yang neyolip.