Friday, May 29, 2009

Kyuminis dan Neyolip

Waktu duduk di sekolah dasar negeri, tiap anak dimintai duit 500 rupiah buat duduk bersama nonton film G30S/PKI. Duduk, supaya bisa tulis nama di daftar absen. Padahal tiap tahun, film itu ditayang ulang di televisi.

Saya juga nonton, duduk bertiga di dua bangku, berjejalan bersama anak kelas 3,4,5, dan 6, anak pagi dan petang. Kami pakai baju olah raga dan rok warna merah, kadang juga ada yang pakai batik.

Aula ditutup karton serba hitam, layarnya kain blacu berdebu. Gambarnya goyang malah mulut tak sesuai dengan suara, nge-bass, blur, lebih sering tertutup bayangan kepala, atau tiruan bayangan burung. Kadang asap rokok Abang Proyektor bisa kelihatan jelas.

Jaman itu, paling tidak enak dipanggil Pe-Ka-I, kominis, keminis, atau kyuminis. Dalam film, yang namnya Pe-Ka-I atau kyuminis itu nari-nari sambil nyilet-nyilet wajah orang. Mereka suka main pelor dan tembak anak kecil seenaknya.

***

Tiap pagi saya selalu update status facebook, lihat apa ada yang komen di status. Apa ada yang request friend, kirim message, atau invite event. Lalu lihat feed, buka milis, situs online, atau discussion board buat tahu berita dan debat paling baru, isinya:

"si itu neyolip,"
"si anu ekonomi kerakyatan,"
"antek amerika,"
"intelijen,"
"wong cilik,"
"anu tak bisa bedakan neolip dan neozep,"

Beda dengan jaman SD, saat ini mungkin paling tidak enak dikatain antek amerika, intelijen, neolib, neyolip, atau neyosep. Mereka katanya suka jual apa saja buat dibisnisin dan ambil untung besar. Suka hutang dan suka privatisasi. Padahal, jiwa judi, kriminil, hutang, dan suka ambil untung besar sudah ada sebelum istilah neyolip nyelip di milis.

***
Heboh sekali diskusi itu, walau sampai sekarang, saya tidak tahu pasti, siapa yang kyuminis, atau siapa yang neyolip.