Friday, September 25, 2009

Sore yang Sederhana

Kapan ya, terakhir kali saya pernah benar benar merasakan sore seperti saat ini?
Hmm, dua bulan, -bukan bukan-, empat bulan yang lalu? Hmm, tapi terakhir saya ingat adalah setahun lalu, kira kira sebelum skripsi saya benar-benar dimulai.

Masa skripsi sudah lewat. Wisuda juga sudah. Sekarang saya berstatus pengangguran terselubung.

Sore ini adalah titik tengah posisi jadi buronan dua orang -eh, sepertinya jadi empat orang-, hihihi. Sore yang sepi seperti inilah, saya bisa memikirkan kembali, apa yang sedang saya lakukan, untuk apa, bagaimana semestinya berjalan, dan apa yang mesti saya lakukan nantinya. Bisa membaca beberapa artikel pelan pelan. Minum teh hangat. Merasakan dengan lega dan tidak terburu-buru, apa yang sedang saya lakukan sekarang.

Saya benar-benar tenang. Mendengar lagu-lagu bertempo lambat. Bisa merasakan basahnya angin sore. -hmm, Sekarang mustinya sudah masuk musim hujan, tapi ternyata belum.- Sangat nyaman mendengar denting klintingan bel angin sambil bernafas teratur. Sedikit-dikit bau asap sisa bakaran sampah tetangga.

Melihat warna kamar yang mulai menggelap, dan cahaya kuning matahari mulai memerah, kuning tua, lalu gelap.

Ini adalah sore yang sederhana. Sore yang biasa.
Tapi kawan, sore yang biasa seperti ini, justru yang saya selalu rindukan.

-Jam 5 sore, di kamar-

Sunday, September 20, 2009

I am not What Attached to Me


Belakangan ini, saya sering bertanya pada diri sendiri, "Siapa saya? Apa yang sedang saya kerjakan? untuk apa? Bagaimana saya akan menjadi saya nantinya?" pertanyaan ini terus dan terus berulang. Semakin berulang bertanya, semakin saya tidak mengerti siapa saya, apa dan untuk apa yang sedang saya lakukan.

Ini adalah situasi kehilangan diri dan tersesat.
Sesat karena jalan yang biasa saya tempuh tiba-tiba buntu. Dan salah identifikasi. Lalu, akhirnya saya menyadari, identifikasi terbaik buat tiap manusia adalah sama, sebagai sebuah jiwa, nafs, bukan fisik.

Kita terbiasa mengidentifikasi seseorang mirip meng-attach file pada email. Maka ketika kita sampai pada situasi terpaksa melepas semua gelar yang ada, itu sangat menyakitkan. Kita mulai bertanya, siapa diri kita.

Saya ada dalam situasi, saya tidak mengidentifikasi siapa saya, tapi lingkungan, teman, keluarga membantu identifikasi diri secara fisik, sifat yang melekat. Beberapa tidak membuat saya nyaman. Namun, bagaimana mungkin dilepas, kalau itu adalah bagian yang melekat?

Cara terbaik adalah dengan memutar pandangan. Semua yang ada adalah "gift". Hadiah dan pemberian. Maka tak akan jadi masalah, kalau pemberian itu kita simpan dalam lemari, atau diberi pada orang lain. Tak jadi masalah, kalau tiba-tiba gift itu tak lagi jadi milik kita. Karena semua hanya hadiah, tak lebih, tak jadi milik kita.

Saya adalah Bob, perempuan dengan fisik yang sempurna.
Lalu apa saya akan berubah jadi John, kalau salah satu bagian dari tubuh menjadi cacat atau tak lagi jadi perempuan? (*anyway memangnya apa definisi perempuan?)
Saya adalah Bob, berusia hampir 23 tahun, suka menggambar, menulis, dan diskusi.
Lalu apa sayang akan menjadi George, kalau saya tiba-tiba lebih suka makan bakso, dan tak bisa lagi menulis dan menggambar?


We ask ourselves, 
Who am I to be brilliant, gorgeous, talented, fabulous? 
Actually, who are you not to be? 
You are a child of God. 
Your playing small does not serve the world. 
.....
And as we let our own light shine, we unconsciously give other people permission to do the same. 
As we are liberated from our own fear, our presence automatically liberates others.
-Our Deepest Fear, Marianne Williamson-

Ketika kita bertanya, siapa saya? Who am I?
maka jawaban yang terbaik adalah, saya adalah saya, saya adalah jiwa yang ada dalam diri.

Memutar pemikiran, saya adalah jiwa yang ada dalam diri, berarti perlahan menghapus sisi materialisme dan eksistensialisme saya.

Menghapus pemikiran, saya mengerjakan, apa yang saya pikir orang pikirkan tentang saya.
I do, what I think, that people think about me.

Dan manfaat terbaik adalah menggerus sisi materialisme. Menghapus cara berpikir, mengukur hal yang ada berdasarkan jumlah dan bentukan, juga membebaskan pemikiran, membebaskan diri orang lain dari pemikiran bentukan secara fisik. Membebaskan mereka yang selama ini terkungkung dalam identitas diri, baik akibat pemikirannya sendiri, ataupun orang lain.

Saya adalah saya.
Saya adalah jiwa yang bergumul dalam diri.
Saya adalah saya. I am what I am.
Ketika saya berlaku baik, itu adalah saya. Ketika saya berlaku -dianggap- kriminal,  itu juga saya.
Manusia tak lagi bisa menghitung apa yang dilihat, terpikir, dan hilang.

Kesadaran pada tahap ini, juga menyalahi pemikiran, I think therefore I am-nya Rene Descartes. Saya berpikir maka saya ada. Lalu apa itu berpikir? Kalau saya bekerja bukan berdasar apa yang saya pikirkan, apakah itu bukan saya? Jalan terbaik tak lagi membatasi definisi, siapa saya dari apa yang saya lakukan, atau pada bagaimana orang lain menyebut saya. Membebaskan pemikiran sendiri, berarti membebaskan orang lain.


Wednesday, September 16, 2009

Semuanya Satu Hari

Dalam satu hari, saya mengalami semuanya, dalam satu hari saja.


Tidur sejam sehari.
Penumpang Mayasari Bakti PPD berusaha menghijacked bus Grogol Kampung Rambutan karena cuma sampai UKI.

Kernet supir ngatain "Bangke" ke penumpang, bus penuh penumpang balik maki-maki si kernet.
Merasa dipermalukan sebagai penguasa jalanan Jakarta karena disasarin kemana-mana.
Ibu dan anak penderita autis terpaksa pindah bus di tengah jalan besar.
Interview orang Indonesia dalam bahasa Inggris.
Melihat anak bule rambut pirang dipangku baby sitter sambil ngaso dan ngobrol bareng sopir dan tukang sapu di Kemang Dalam.
Melihat bule bule berlatih salsa dan pesta teqquilla untuk malam amal.
Diskusi soal korupsi Indonesia, perbandinan Taiko Eiji Yoshikawa dan Mingke Pramoedya Ananta Toer bareng bule Jepang.
Bikin account di bank untuk nabung.
Turun dan gak bayar angkot gara-gara di angkot di kedipin sama bapak, merasa di-embarrassed secara seksual. Berawal dari pertanyaan, "Mau Kemana, neng?" terus gw jawab, "Mau gw kemana kek, emang apa urusan lo?"
Debat sama Mba Petugas Spidi bernama Artha, karena merasa dia yang nyolot, naikin tagihan jadi lebih dari 95000 IDR. Dan balik nanya, "Jadi saya gak salah kan?"
Menemui kartu ATM-nya ibu guru dipakai sama anak pertamanya tanpa ketahuan.
(terbiasa melihat) Buka puasa diawali dengan sebotol Anker Scout.
Menemui teman yang berusaha membangun Panti Asuhan dan sedang kekurangan dana.

    Thursday, September 03, 2009

    Our Deepest Fear

    by Marianne Williamson


    Our deepest fear is not that we are inadequate. Our deepest fear is that we are powerful beyond measure. It is our light, not our darkness that most frightens us. 
    We ask ourselves, Who am I to be brilliant, gorgeous, talented, fabulous? Actually, who are you not to be? You are a child of God. Your playing small does not serve the world. There is nothing enlightened about shrinking so that other people won't feel insecure around you. We are all meant to shine, as children do. We were born to make manifest the glory of God that is within us. It's not just in some of us; it's in everyone. And as we let our own light shine, we unconsciously give other people permission to do the same. As we are liberated from our own fear, our presence automatically liberates others.



    Puasa dan Urusan Tuhan

    Saya mulai memahami soal hadist riwayat yang menyebutkan, puasa adalah ibadah langsung pada Tuhan. Saya memahami ini sebagai, ibadah yang jadi urusan langsung antara manusia langsung dengan Tuhannya. Berbeda dengan shalat yang bisa dilakukan berjamaah, di tempat publik. Puasa adalah soal menahan semuanya, dan tak ada yang tahu siapa yang bisa tahan.

    Kalau urusan makan dan minum, mungkin bisa diakali. Tapi puasa lebih dari tidak makan dan tidak minum, ia menahan rasa amarah ketika sedang haus, pikiran yang tetap jalan saat kadar gula berkurang, tidak berbohong, mengendalikan hormon nafsu, dan niat untuk menyelesaikan puasa itu sendiri sampai magrib.

    Dari itu semua, tak ada yang bisa tahu, kecuali diri sendiri dan sesuatu yang dianggap Tuhan. Beberapa percaya, Tuhan ada dalam bagian dari dirinya, maka berpuasa adalah urusan antara diri dan dirinya. Sementara yang lain menempatkan Tuhan dengan ber-ihsan, yakni menyadari bahwa Tuhan tak bisa dilihat, tapi selalu mengawasi apa yang ada di hati, pikiran,  atau yang ia lakukan dimana saja. Untuk itu, maka berpuasa bagi yang berihsan adalah merasa selalu diilihat, urusan antara dirinya dengan sesuatu yang tak terlihat.

    Tuesday, September 01, 2009

    Identity Ambiguity

    tomorrow is gonna be the day, day just same as before today.. tonight, in the rainny night, I am wondering and rethinking, who am I ? what did I do? what I supposed to do?

    dramaturgy, social convention, and all of the same-ness I did, seems wrong today. tonight.
    I did, what my family, my friends, and everyone want me to do.
    I did, just to feel unguilty.
    I and me did, to whatever people will speak good about me,
    so they will not find my mistakes,
    so the cowards won't say bad about me.

    My Almighty...

    I am lost in my identity.
    in my ambiguity of identity.

    to much lies I made.
    after a lie, there are another lies to cover the lie before.

    who am I?
    what the heck am I doing here?
    what make the who I am?